Rabiah Al-Adawiyah dengan Puisi Mabuk Cinta Pemilik Sorga

Puisi Rabiah Al Adawiyah

Siapa yang tidak mengenal Rabiah Al Adawiyah? Sufi sangat mencintai Tuhan. Rasa cintanya begitu meresap ke dalam jiwa-jiwa yang murni sehingga himne-himnenya tentang Tuhan dan kerohanian-Nya terkenal bahkan hingga hari ini. Puisi sufi atau bisa juga disebut puisi cinta, penyair sadar adalah manifestasi dari makhluk spiritual. Sebagai makhluk sosial, manusia selalu berusaha mengungkapkan keinginannya akan nilai-nilai spiritual untuk mewujudkan kesempurnaan dirinya.

Padahal, kita semua tahu bahwa nilai-nilai spiritual tersebut semakin tergerus oleh peradaban modern yang semakin bergerak ke arah materialisme dan hedonisme. Orang bersaing untuk mendapatkan keinginan dan mencoba apa saja untuk mendapatkan “kepemilikan atas beberapa hal” dan untuk menikmati kesenangan sesaat dari gaya hidup yang canggih.

Banyak orang juga menyadari bahwa hidup dan kehidupan hanya diarahkan pada hal-hal materi dan kesenangan sesaat tersebut di atas tidak memberikan ketenangan pikiran. Situasi dan keadaan yang haus seperti itu telah menyadarkan banyak orang untuk memperbaharui spiritualitas keyakinan agama mereka. Ajaran itulah yang membawa ketenangan jiwa untuk melepas dahaga di gersangnya panas gurun peradaban manusia.

Selain masalah spiritualitas tersebut di atas, para mistikus dengan ajaran tasawuf memiliki status khusus dari banyak orang yang mencari “kesempurnaan” diri mereka sendiri. Dalam konteks ini, saya berharap dengan terbitnya puisi-puisi rohani Rabi’ah al-Adawiyah ini dapat sedikit mengairi gurun gersang jiwa kita.

Mengenai tasawuf, Philip K. juga menyatakan dalam bukunya The History of the Arabs bahwa tasawuf bukanlah kumpulan ajaran, melainkan cara berpikir dan berperasaan dalam kerangka keagamaan. Ini adalah salah satu bentuk tasawuf dalam Islam.

Pada awal kemunculannya, tasawuf dikatakan sebagai reaksi terhadap intelektualisme dan formalisme ajaran Islam dan al-Qur’an yang dihasilkannya.

Philip K. Hetty mengatakan, “Secara psikologis, dasar tasawuf harus dicari dalam keinginan besar manusia untuk menemukan kebenaran Tuhan dan kebenaran agama, upaya untuk mendekati Tuhan secara langsung, serta pendekatan yang lebih personal dan mendalam. pengalaman adalah dua realitas. Sufisme menelusuri asal-usulnya ke Al-Qur’an dan Hadits.

Salah satu ciri utama para mistikus adalah upaya mereka yang tak kenal lelah untuk mencapai ketinggian kebijaksanaan hingga “pertemuan” rabbi ilahi. Untuk mencapai “perjumpaan” ini, Rabi’ah al-Adawiyah menyebutnya Ajaran Cinta Ilahi. Cinta adalah perasaan yang menenangkan hati dan menggairahkan hati. Cinta dapat diangkat ke tingkat yang lebih tinggi. Dan puncak dari semua cinta adalah cinta Sang Kekasih, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

Puisi – Puisi Cinta Penghabaan Rabiah Al Adawiyah

Alangkah sedihnya perasaan dimabuk cinta
Hatinya menggelepar menahan dahaga rindu
Cinta digenggam walau apapun terjadi
Tatkala terputus, ia sambung seperti mula
Lika-liku cinta, terkadang bertemu surga
Menikmati pertemuan indah dan abadi
Tapi tak jarang bertemu neraka
Dalam pertarungan yang tiada berpantai


Aku mencintai-Mu dengan dua cinta
Cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu
Cinta karena diriku, adalah keadaan senantiasa mengingat-Mu
Cinta karena diri-Mu, adalah keadaan-Mu mengungkapkan tabir
Hingga Engkau ku lihat
Baik untuk ini maupun untuk itu
Pujian bukanlah bagiku
Bagi-Mu pujian untuk semua itu


Tuhanku, tenggelamkan aku dalam cinta-Mu
Hingga tak ada satupun yang mengganguku dalam jumpa-Mu
Tuhanku, bintang gemintang berkelip-kelip
Manusia terlena dalam buai tidur lelap
Pintu pintu istana pun telah rapat
Tuhanku, demikian malam pun berlalau
Dan inilah siang datang menjelang
Aku menjadi resah gelisah
Apakah persembahan malamku, Engkau terima
Hingga aku berhak mereguk bahagia
Ataukah itu Kau tolak, hingga aku dihimpit duka,
Demi kemahakuasaan-Mu
Inilah yang akan selalau ku lakukan
Selama Kau beri aku kehidupan
Demi kemanusian-Mu,
Andai Kau usir aku dari pintu-Mu
Aku tak akan pergi berlalu
Karena cintaku pada-Mu sepenuh kalbu

Ya Allah, apa pun yang akan Engkau
Karuniakan kepadaku di dunia ini,
Berikanlah kepada musuh-musuh-Mu
Dan apa pun yang akan Engkau
Karuniakan kepadaku di akhirat nanti,
Berikanlah kepada sahabat-sahabat-Mu
Karena Engkau sendiri, cukuplah bagiku

Aku mengabdi kepada Tuhan
bukan karena takut neraka
Bukan pula karena mengharap masuk surga
Tetapi aku mengabdi,
Karena cintaku pada-Nya
Ya Allah, jika aku menyembah-Mu
karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya
Dan jika aku menyembah-Mu
karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya
Tetapi, jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata,
Janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu
yang abadi padaku


Alangkah buruknya,
Orang yang menyembah Allah
Lantaran mengharap surga
Dan ingin diselamatkan dari api neraka


Seandainya surga dan neraka tak ada
Apakah engkau tidak akan menyembah-Nya?


Aku menyembah Allah
Lantaran mengharap ridha-Nya
Nikmat dan anugerah yang diberikan-Nya
Sudah cukup menggerakkan hatiku
Untuk menyembah-Mu

Sulit menjelaskan apa hakikat cinta
Ia kerinduan dari gambaran perasaan
Hanya orang
yang merasakan dan mengetahui
Bagaimana mungkin
Engkau dapat menggambarkan
Sesuatu yang engkau sendiri bagai hilang
dari hadapan-Nya, walau ujudmu
Masih ada karena hatimu gembira yang
Membuat lidahmu kelu


Andai cintaku
Di sisimu sesuai dengan apa
Yang kulihat dalam mimpi
Berarti umurku telah terlewati
Tanpa sedikit pun memberi makna


Tuhan, semua yang aku dengar
di alam raya ini, dari ciptaan-Mu
Kicauan burung, desiran dedaunan
Gemericik air pancuran
Senandung burung tekukur
Sepoian angin, gelegar guruh
Dan kilat yang berkejaran
Kini
Aku pahami sebagai pertanda
Atas keagungan-Mu
Sebagai saksi abadi, atas keesaan-Mu
dan
Sebagai kabar berita bagi manusia
Bahwa tak satu pun ada
Yang menandingi dan menyekutui-Mu


Bekalku memang masih sedikit
Sedang aku belum melihat tujuanku
Apakah aku meratapi nasibku
Karena bekalku yang masih kurang
Atau karena jauh di jalan yang ‘kan kutempuh
Apakah Engkau akan membakarku
O, tujuan hidupku
Di mana lagi tumpuan harapanku pada-Mu
Kepada siapa lagi aku mengadu?


Ya Allah
Semua jerih payahku
Dan semua hasratku di antara segala
kesenangan-kesenangan
Di dunia ini, adalah untuk mengingat Engkau
Dan di akhirat nanti, di antara segala kesenangan
Adalah untuk berjumpa dengan-Mu
Begitu halnya dengan diriku
Seperti yang telah Kau katakan
Kini, perbuatlah seperti yang Engkau kehendaki


Ya Tuhan, lenganku telah patah
Aku merasa penderitaan yang hebat atas segala
yang telah menimpaku
Aku akan menghadapi segala penderitaan itu dengan sabar
Namun aku masih bertanya-tanya
Dan mencari-cari jawabannya
Apakah Engkau ridha akan aku
Ya, Ya Allah
O Tuhan, inilah yang selalu mengganggu langit pikiranku


Ya Allah
Aku berlindung pada Engkau
Dari hal-hal yang memalingkan aku dari Engkau
Dan dari setiap hambatan
Yang akan menghalangi Engkau
Dari aku


Ya Illahi Rabbi
Malam telah berlalu
Dan siang datang menghampiri
Oh andaikan malam selalu datang
Tentu aku akan bahagia
Demi keagungan-Mu
Walau Kau tolak aku mengetuk pintu-Mu
Aku akan tetap menanti di depannya
Karena hatiku telah terpaut pada-Mu


Tuhanku
Tenggelamkan diriku ke dalam lautan
Keikhlasan mencintai-M
Hingga tak ada sesuatu yang menyibukkanku
Selain berdzikir kepada-Mu


Asfari MS dan Sukatno CR (Editor), Mahabbah Cinta Rabi’ah al-Adawiyah, Yayasan Bentang Budaya Yogyakarta, Cetakan Keempat Juni 1999.

Puisi Rabiah Al Adawiyah
Next Post

No more post

You May Also Like

Leave a Reply